PUPUK ORGANIK ARTI DAN PERANAN DALAM DUNIA PERTANIAN
Pupuk organik (organic fertilizer) :Pupuk organik adalah pupuk yang dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik antara lain pupuk kandang, kompos, kascing, gambut, rumput laut dan guano. Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Ada juga yang mengelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu (yang kaya Kalium) ke
dalam golongan pupuk organik. Beberapa pupuk organik yang diolah di pabrik misalnya adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan. Pupuk organik cair antara lain adalah compost tea, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, fermentasi tumbuhan-tumbuhan, dan lain-lain.
Umumnya pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap, bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa senyawa organik lain. Namun, kandungan hara dalam pupuk organik umumnya relatif rendah. Jarang sekali ada pupuk organik yang memiliki kandungan hara tinggi atau dapat menyamai pupuk kimia.
Sering kali dalam menghitung kebutuhan pupuk organik didasarkan pada kandungan haranya saja. Kandungan hara pupuk organik di setarakan dengan kandungan hara dari pupuk kimia yang biasa digunakan. Akibatnya, kebutuhan pupuk organik jadi berlipat-lipat dibandingkan dengan dosis pupuk kimia.
Sebagai contoh, kompos dengan kandungan 2,79% N, 0,52% P2O5, 2,29% K2O, untuk 1000 kg (1 ton) kompos akan setara dengan 62 kg Urea, 14,44 kg SP- 36, dan 38,17 kg MOP. Cara menghitungnya adalah sebagai berikut:
Hara N = (%N kompos x 1000 kg)/ %N Urea = (2,79% x 1000 kg)/ 45% = 62 kg;
Hara P = (%P2O5 kompos x 1000 kg)/ %P2O5 SP-36 = (0,52% x 1000 kg)/ 36% = 14,44 kg;
Hara K = (%K2O kompos x 1000 kg)/ %K2O MPO = (2,29% x 1000 kg)/ 60% = 38.17 kg.
Misalkan, tanaman padi biasanya diberi pupuk kimia dengan dosis 200 kg Urea,100 kg SP-36, dan 150kg MOP/KCl. Agar unsur haranya sama, maka kompos yang diperlukan kurang lebih sebanyak 7 ton. Dosis yang besar ini akan berimplikasi langsung terhadap biaya pemupukan. Jika dihitung biaya pemupukan dengan pupuk organik/ kompos jauh lebih besar daripada biaya pemupukan dengan pupuk kimia. Belum lagi biaya untuk aplikasi kompos tersebut.
Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa pupuk organik/ kompos tidak bisa dihitung berdasarkan unsur haranya saja. Umumnya, tanaman yang diberi kompos akan tumbuh lebih baik daripada tanaman yang diberi pupuk kimia, meskipun kandungan haranya sebanding. Selain kandungan hara, pupuk organik juga mengandung senyawa-senyawa organik lain. Meskipun kandungan haranya rendah tetapi kandungan senyawa-senyawa organik di dalam kompos ini memiliki peranan yang lebih penting daripada peranan hara saja. Misalnya, asam humik dan asam fulvat. Kedua asam ini memiliki peranan seperti hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Kompos diketahui dapat meningkatkan nilai KTK (kapasitas tukar kation) tanah. Artinya, tanaman akan lebih mudah menyerap unsur hara. Tanah yang diberi kompos juga menjadi lebih gembur dan aerasi tanah menjadi lebih baik. Tanah yang diberi kompos lebih banyak menyimpan air dan tidak mudah kering. Jika diamati lebih jauh, aktivitas mikroba pada tanah yang diberi kompos akan lebih tinggi daripada tanah yang tidak diberi kompos. Mikroba-mikroba ini memiliki peranan dalam penyerapan unsur hara oleh tanaman. Dengan demikian, kompos dapat memperbaiki sifat kimia, sifat fisik, dan sifat biologi tanah.
Hingga saat ini saya belum ditemukan rumus yang akurat untuk menghitung kebutuhan pupuk organik/ kompos. Kandungan pupuk organik sangat beragam. Karakteristiknya pun bermacam-macam. Pupuk kandang di Pulau Jawa belum tentu sama dengan pupuk kandang di wilayah-wilayah di luar Jawa. Selain sumber bahannya yang berbeda, jenis tanah, iklim, kondisi lingkungan, dan cara budidayanya juga berbeda-beda. Umumnya dosis pupuk organik/ kompos ditentukan secara empirik.
Dalam kondisi tertentu, pupuk organik/ kompos dapat diberikan tanpa menambahkan pupuk kimia sama sekali. Cara ini telah dipraktekkan dalam budidaya pertanian organik. Yang lebih sering dilakukan adalah mengombinasikan antara pupuk organik dengan pupuk kimia. Sebagian kebutuhan hara tanaman disubstitusi antara pupuk kimia dan pupuk organik. Caranya dengan menghitung berapa kombinasi yang paling ekonomis, baik dilihat dari sisi biaya maupun hasilnya. Patokan yang sering dipakai adalah 50% dosis pupuk kimia diganti dengan sejumlah pupuk organik. Dosisnya bisa 1 – 2 kg atau bahkan hingga 30 kg.
Pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mengatasi merosotnya mutu lahan sekaligus menutupi kekurangan terhadap pupuk anĀorganik (pupuk pabrikan) pada lahan pertanian dan perkebunan. Pupuk organik dapat diperoleh dari usaha pertanian sendiri (jerami), dari usaha peternakan, limbah pabrik dan limbah kotor/ rumah tangga. Penyediaan pupuk organik dapat dilakukan oleh masyarakat tani sendiri sehingga dapat menambah lapangan kerja baru di samping usaha taninya sendiri.
Pupuk organik mempunyai fungsi yang penting yaitu untuk menggemburkan lapisan tanah permukaan (top soil), meningkatkan populasi jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, yang keseluruhannya dapat meningkatkan kesuburan tanah pula. Kadar mineralnya memang rendah dan masih memerlukan pelapukan terlebih dahulu sebelum dapat diserap oleh tanaman. Namun demikian, manfaatnya cukup besar.
Related Blogs
Artikel Terkait:

Leave a Reply