Pemanenan Dan Pascapanen Budidaya Kumis Kucing
Setelah semua fase kita bahas yaitu dari pengenalan, syarat tumbuh, teknis budidaya hingga macam gangguan dan penangganannya pada budidaya kumis kucing, bagian yang paling utama adalah pemanenan dan penangan pascapanennya. Agar kualitas hasil panen dapat diperoleh dengan maksimal, petani harus mengetahui secara tepat kapan tanaman kumis kucing tersebut dapat dipanen dan bagaimana langkah-langkah selanjutnya. Oleh kaarena itu akan dibahas lebih lanjut mengenai pemanenan dan penanganan pascapanen pada budidaya kumis kucing.
A. PANEN
a. Ciri dan Umur Panen
Pemanenan sebaikknya dilakukan saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam, pada saat tangkai bunga belum muncul dan tinggi tanaman sekitar 50 cm. Perlu diperhatikan bahwa panen pertama jangan sampai terlambat karena akan mempengaruhi produksi.
b. Cara Panen
Metode pemanenan yang benar dilakukan dengan cara memetik bagian pucuk daun, pucuk dengan jumlah daun 3-5 helai, kemudian merempal daun-daun tua di bawahnya sampai helai ke 10.
c. Periode Panen
Panen dilaksanakan dalam periode 2-3 minggu sekali yaitu pada pertumbuhan optimum dari daun. Saat panen yang tepat adalah pada saat awal pertumbuhan bunga tetapi belum tumbuh bunga. Karena yang dimanfaatkan adalah daunnya maka bunga yang tumbuh sebaiknya dirompes untuk dapat memaksimalkan pertumbuhan daun pada panen berikutnya.
d. Perkiraan Hasil Panen
Dalam budidaya kumis kucing , kita sudah dapat memprediksikan hasil panen yang akan diperoleh. Tanaman yang sehat dan terpelihara menghasilkan rimpang segar sebanyak Dengan pemeliharaan yang intensif, akan dihasilkan daun basah 6-9 ton/ha yang setara dengan 1-2 ton/ha daun kering.
B. PASCAPANEN
Setelah pemetikan, daun-daun hasil panen dikumpulkan di dalam karung dan dibawa ke tempat pengumpulan hasil. Proses pasca panen untuk mendapatkan daun kering kualitas ekspor adalah sbb:
a. Penyortiran Basah dan Pencucian
Sortasi basah dilakukan pada bahan segar dengan cara memisahkan daun dari kotoran atau bahan asing lainnya. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika air bilasannya masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.
b. Pengeringan
Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. Pengeringan daun dilakukan selama kira-kira 1 – 2 hari atau setelah kadar airnya dibawah 5%. Pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan daun tidak saling menumpuk.Selama pengeringan daun harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi daun tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan didalam oven dilakukan pada suhu 500 C – 600 C. Daun yang akan dikeringkan ditaruh diatas tray oven dan alasi dengan kertas Koran dan pastikan bahwa daun tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah daun yang dihasilkan.
c. Penyortiran Kering
Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah mengalami pengeringan dengan memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah bahan hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).
d. Pengemasan
Setelah bersih, daun yang kering dikumpulkan dalam wadah yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya), dapat berupa kantong plastik atau karung. Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.
e. Penyimpanan
Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 300 C, dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.
Selanjutnya hasil panen yang sudah diproses dan dikemas dengan baik dapat dipasarkan dan dikirimkan ke konsumen langsung ataupun industri-industri farmasi untuk diolah lebih lanjut.
Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :
penanganan pasca panen kumis kucing (5), panen kumis kucing (4), pasca panen kumis kucing (3), proses pengeringan daun (3), hasil panen kumis kucing (2), eksportir kumis kucing (2), alat pengering daun (2), laporan penanaman tanaman kumis kucing (2), pengeringan matahari dan oven (1), penghasil kumis kucing (1), pascapanen kumis kucing (1), alat dan bahan pengelolahan tumbuhan kumis kucing (1), Langkah langkah menanam kumis kucing (1), kualitas kumis kucing produksi (1), budidaya kumis kucing panen (1), Apa arti dari penyortiran pada panen dan pasca panen ? (1), alat pengeringan daun (1), waktu panen kumis kucing yang baik (1)Artikel Terkait:

Leave a Reply