Hampir setiap budidaya tanaman memiliki resiko gangguan dari hama dan penyakit ataupun gangguan dari hal lain, termasuk pada budidaya tanaman kumis kucing ini. Dengan mengetahui berbagai macam hambatan yang mungkin menyerang tanaman kumis kucing ini serta memahami bagaimana cara menanggulanginya, diharapkan resiko kegagalan budidaya kumis kucing ini dapat diminimalisir. Berikut akan dibahas lebih lanjut macam gangguan serta cara penanggulangannya.

A. HAMA

Selama ini tidak ada hama atau penyakit yang benar-benar merusak tanaman kumis kucing. Hama yang sering ditemukan adalah kutu daun dan ulat daun.

B. PENYAKIT

Penyakit yang menyerang disebabkan oleh jamur upas (Upsia salmonicolor atau Corticium salmonicolor). Jamur ini menyerang batang atau cabang tanaman yang berkayu. Pengendaliandilakukan dengan perbaikan tata air, meningkatkan kebersihan kebun, memotong bagian yang sakit, pergiliran tanaman dan penyemprotan pestisida selektif.

C. GULMA

Gulma yang banyak tumbuh di lahan pertanaman kumis kucing cukup bervariasi dan kebanyakan dari jenis gulma kebun seperti rumput teki, lulangan, ageratum, alang-alang, dan rumput-rumput lainnya

D. PENGENDALIAN HAMA/PENYAKIT SECARA ORGANIC

Sama seperti pada tanaman obat lainnya bahwa pengendalian hama/penyakit secara organic pada pertanaman kumis kucing lebih diusahakan secara PHT (pengendalian hama secara terpadu). Termasuk di dalamnya system bercocok tanam secara tumpang sari akan dapat menghambat serangan hama/penyakit. Untuk pengendalian gulma sebaiknya dilakukan secara manual dengan cara penyiangan seperti telah dijelaskan di atas.

Namun demikian apabila diperlukan dapat diterapkan penyemprotan dengan insektisida maupun pestisida nabati. Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:

  1. Tembakau (Nicotiana tabacum)

Tembakau memiliki kandungan nikotin yang berfungsi sebagai insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Bahan ini diaplikasikan untuk serangga kecil misalnya Aphids.

  1. Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium)

Tanaman ini mengandung piretrin yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Jenis ini diaplikasikan pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.

  1. Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis)

Tuba mengandung rotenone untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.

  1. Neem tree atau mimba (Azadirachta indica)

Tanaman ini mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.

  1. Bengkuang (Pachyrrhizus erosus)

Bangkuang dimanfaatkan bagian bijinya yang mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.

  1. Jeringau (Acorus calamus)

Jenis tanaman ini rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang (Callosobrocus).

Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :

hama kumis kucing (1), Penanggulangan tanaman dengan pestisida organik (1), pestisida alami dari tumbuhan kumis kucing (1), tanaman sebagai insektisida tumpangsari (1), tuba mengandung (1), tubainsektisida (1)

Artikel Terkait:

  1. Prospek Usaha Budidaya Kumis Kucing
  2. Syarat Tumbuh Budidaya Kumis Kucing
  3. Pemanenan Dan Pascapanen Budidaya Kumis Kucing
  4. Pedoman Budidaya Kumis Kucing
  5. MENGENAL GANGGUAN SERTA CARA PENANGANAN DALAM BUDIDAYA TANAMAN SAGU