Dalam pengembangan industri Sapi Perah, hal penting yang harus dilakukan adalah meminimalisir permasalahan yang terjadi dan sekaligus mengoptimalkan potensi yang dimiliki saat ini. Disamping mengoptimalkan kondisi ternak sehingga menghasilkan produk susu yang optimal kualitas, diperlukan juga penanganan pascapanen dengan baik sehingga mutu dan kualitas susu tetap terjaga. Proses pertama yang dilakukan setelah susu dipanen adalah proses pateurisasi . Kemudian baru diolah lebih lanjut menjadi berbagaimacam produk olahan susu. Berikut akan kita bahas lebih lanjut penanganan pascapanen susu sapi.

 

Teknologi Penanganan Pasca Panen Susu

 

Dikenal beberapa teknologi yang lazim dipakai untuk melakukan pencegahan kerusakan makanan yang disebabkan oleh kegiatan mikroba, yaitu :

 

1. Refrigeration (Pendinginan)

2. Deep – Freezing (Pembekuan)

3. Chemical preservation (Pengawetan dengan bahan kimia)

4. Heat Treatment (Perlakuan panas)

 

 

1. Refrigeration (Pendinginan)

Adalah penyimpanan bahan makanan pada suhu sekitar 00C sampai 1000 C. Waktu pertumbuhan bakteri antara lain ditentukan oleh faktor suhu. Pada suhu rendah pada umumnya pertumbuhan bakteri terhambat dan jika ada beberapa jenis bakteri yang masih bisa berkembang pada suhu rendah maka kecepatan pertumbuhannya sangat lambat dan diperlukan waktu cukup lama untuk dapat meyebabkan kerusakan bahan makanan atau dengan kata lain umur keawetan bahan makanan bertambah. Selain itu pada suhu rendah proses reaksi kimia, bio-kimia dan fisika juga akan menjadi lambat. Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa pendinginan hanya memperlambat semua proses yanag terjadi dan bukan menghentikan. sehingga didalam proses pendinginan perlu dijaga agar suhu pendinginan harus selalu konstan.

 

2. Heat Treatment ( Perlakuan Panas)

Adalah perlakuan panas yang cukup tinggi pada makanan dan ditujukan untuk mengurangi atau membunuh mikroba yang ada didalam makanan. Dalam hal ini dikenal 2 macam proses, yaitu :

a. Proses Pasteurisasi

b. Proses Sterilisasi

 

a. Proses Pasteurisasi

Proses pasteurisasi terutama ditujukan untuk membunuh semua bakteri pathogen dan juga dengan sendirinya mengurangi jumlah bakteri non-pathogen. Tetapi spora-spora bakteri tetap tahan terhadap perlakuan pasteurisasi.

Dikenal beberapa type pasteurisasi yaitu :

· Low Temperature Long Time (LTLT) yaitu proses pasteurisasi pada suhu sekitar 60 – 700C selama 30 menit dan

· type High Temperature Short Time dimana perlakuan panasnya pada suhu 76 – 80 0 C atau lebih selama 15 detik.

Perlu diperhatikan disini adalah waktu yang dipakai pasteurisasi adalah waktu yang dihitung sejak suhu ditetapkan (misalnya 650 C) telah tercapai.

 

b. Proses Sterilisasi

Pada dasarnya dikenal 2 macam type sterilisasi, yaitu :

· Batch Sterilization

Produk yang belum steril diisikan kedalam kemasan dan selanjutnya bersama-sama dilakukan proses sterilisasi. Biasanya dipakai suhu sterilisasi 1209 C selama 20 atau 30 menit.

 

· Flow Sterilization (UHT)

Produk dan kemasan disterilisasikan sendiri-sendiri/terpisah. Biasanya dipakai suhu sterilisasi 135 C sampai 150 C selama 2 detik.

 

Teknologi Pasteurisasi Susu

 

Dipandang dari segi kesehatan manusia susu segar yang tidak dipasteurisasi merupakan bahan makanan yang membahayakan bila dikonsumsi langsung, karena susu merupakan media yang sempurna untuk pertumbuhan mikroba yang dapat menginfeksi manusia. Penyakit seperti TBC, typhus, disentri Seperti penjelasan sebelumnya, Pasteurisasi adalah suatu proses pemanasan pada suhu dibawah 1000 C dan dalam jangka waktu tertentu yang dapat mematikan sebagian mikroba yang ada dalam susu. Selain ditujukan untuk membunuh mikroba pembawa penyakit (pathogen) seperti bakteri TB; Coli, dll, proses pasteurisasi yang dilanjutkan dengan pendinginan segera akan menghambat pertumbuhan mikroba yang tahan suhu pasteurisasi juga akan merusak sistem ensimatis yang dihasilkannya (misalnya enzim phosphatase, lipase, dll), sehingga dapat mengurangi kerusakan zat gizi serta memperbaiki daya simpan susu (keeping quality) dan mempertahankan rupa maupun cita rasa susu segar.

 

Dikenal dua metoda yang lazim digunakan pada proses pasteurisasi susu yaitu LTLT (Low Temperature Long Time) dan HTST (High Temperature Short Time). Metode LTLT pada dasarnya dilakukan dengan pemanasan susu sampai suhu 63 – 65 0C dan dipertahankan pada suhu tersebut selama 30 menit. Alat yang digunakan untuk LTLT berupa tangki terbuka (open vat) dengan pemanas tidak langsung atau lebih dikenal dengan “Batch Pasteuriser”. Sedang metoda HTST dilakukan dengan pemanasan susu selama 15 – 16 detik pada suhu 76 – 80 0C atau lebih dengan menggunakan alat penukar panas (heat exchanger) dan diikuti dengan proses pendinginan

susu dengan cepat agar mikroba yang masih hidup tidak tumbuh kembali.

 

Selanjutnya sebagai tambahan informasi berikut penanganan dan pengolahan susu sapi yang sesuai dengan standart GMP, sehingga susu yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik.

 

CARA PENGOLAHAN YANG BAIK

 

GMP sudah menjadi pedoman yang dikenal baik oleh sebagian besar industri – industri pangan di Indonesia, melalui keputusan Menteri Kesehatan Nomor 23/Men.Kes/SK 1978. serta Peraturan Menteri Pertanian nomor : 381/Kpts/OT.140/10/2005 tentang Pedoman sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan.

 

GMP telah dijadikan pedoman penuntun bagi produsen makanan dan minuman dengan tujuan untuk meningkatkan mutu hasil produksinya dan dengan demikian masyarakat dapat dilindungi keselamatan dan kesehatannya terhadap produksi dan peredaran makanan yang telah memenuhi syarat.

 

Secara garis besar mengenai pelaksanaan GMP dapat disampaikan sebagai berikut :

 

Lingkungan Produksi

 

Industri pengolahan harus berada di tempat yang :

· Bebas pencemaran, semak belukar dan genangan air

· Bebas dari sarang hama, khususnya serangga dan binatang pengerat

· Tidak berada di daerah sekitar tempat pembuangan sampah baik sampah padat maupun sampah cair atau daerah penumpukan barang bekas dan daerah kotor lainnya. Unit pengolahan susu tidak berada di daerah pemukiman penduduk yang kumuh.

 

Lingkungan harus selalu dipertahankan dalam keadaan bersih dengan cara-cara :

· Sampah harus dibuang dan tidak menumpuk

· Tempat dampah harus selalu tertutup

· Jalan dipelihara supaya tidak berdebu dan selokannya berfungsi dengan baik

 

Untuk menetapkan lokasi unit pengolahan susu perlu dipertimbangkan keadaan dan kondisi lingkungan yang mungkin dapat merupakan sumber pencemaran potensial dan telah mempertimbangkan berbagai tindakan pencegahan yang mungkin dapat dilakukan untuk melindungi pangan yang diproduksinya

 

Bangunan dan Fasilitas Unit Pengolahan Susu

 

1. Persyaratan Umum Bangunan

 

Didalam industri pengolahan susu, maka spesifikasi bangunan/ruangan proses dan lingkungan sama pentingnya dengan spesifikasi peralatan proses. Dalam kaitan ini disampaikan persyaratan umum (minimal) untuk bangunan pengolahan susu pasteurisasi mini, dengan maksud untuk menjadikan panduan dalam Lingkungan disekitar lokasi pabrik membuat bangunan proses

 

A. Ruang Proses

· Harus ada drainase utama di ruang proses

· Lantai dari keramik miring 3 0 kearah drainase

· Dinding keramik setinggi 1,2 m

· Pintu utama 2 daun dari Aluminium + kaca

· Plafond tinggi 2,8 m dari asbes

· Lengkapi kran-kran air dan stop kontak

· Lampu penerangan TL

· Kawat nyamuk pada dinding ventilasi

· Pertemuan dinding dan lantai melengkung

 

B. Ruang Filling/Pengisian Susu

· Saluran pipa drainase dia 3 ” beri tutup

· Lantai dari keramik miring 3 0 kearah drainase

· Dinding keramik setinggi 1,2 m

· Sebagian dinding separo bata + kaca

· Pintu 90 cm dari Al + kaca

· Lengkapi foot bath depan pintu masuk

· Lengkapi kran air + stop kontak

· Plafon dari asbes

· Selain lampu TL lengkapi lampu UV

· Kalau perlu lengkapi AC

· Kalau perlu lengkapi lobang pengeluaran produk

 

C. Ruang Utilitas

· Ruang terpisah/di luar ruang proses

· Lantai dari beton/adukan

· Lengkapi kran air dan stop kontak

· Kalau perlu lengkapi Gen-set

 

Luas bangunan tergantung pada kapasitas produksi susu pasteurisasi yang akan dihasilkan tiap harinya. Yaitu minimal dibutuhkan luas bangunan 60 – 75 m2 tiap produksi 1000 liter susu pasteurisasi. Sedang kebutuhan air yang diperlukan adalah sekitar 7 – 10 liter air setiap produksi 1 liter susu pasteurisasi (dikutip dari buku “Milk Pasteurization ” Hall, Carl, Trout M, 1968)

 

2. Ruang Produksi

 

Ruang produksi harus selalu dalam keadaan bersih dan rapi

a. Disain dan Tata Letak

Ruang produksi seharusnya cukup luas dan mudah dibersihkan

b. Lantai

· Lantai seharusnya dibuat dari bahan kedap air, rata, halus tetapi tidak licin, kuat mudah dibersihkan dan dibuat miring untuk memudahkan pengaliran air.

· Lantai harus selalu dalam keadaan bersih dari debu, lendir dan kotoran lainnya.

c. Dinding

· Dinding seharusnya dibuat dari bahan kedap air minimal 2 meter, rata, halus, berwarna terang, tahan lama, tidak mudah megelupas, kuat dan mudah dibersihkan.

· Dinding harus selalu dalam keadaan bersih dari debu, lendir, dan kotoran lainnya.

d. Langit- langit

· Konstruksi langit-langit seharusnya didisain dengan baik untuk mencegah penumpukan debu, pertumbuhan jamur, pengelupasan, bersarangnya hama, memperkecil terjadinya kondensasi, serta terbuat dari bahan tahan lama dan mudah dibersihkan.

· Langit-langit harus selalu dalam keadaan bersih dari debu, sarang labah- labah dan kotoran lainnya.

e. Pintu Jendela dan Lubang Angin

· Pintu dan jendela seharusnya dibuat dari bahan tahan lama, tidak mudah pecah, rata, halus, berwarna terang dan mudah dibersihkan.

· Pintu, jendela dan lubang angin seharusnya dilengkapi dengan kawat kasa yang dapat dilepas untuk memudahkan pembesihan dan perawatan.

· Pintu seharusnya didisain membuka ke luar/ ke samping sehingga debu atau kotoran dari luar tidak terbawa masuk melalui udara ke dalam ruangan pengolahan

· Pintu seharusnya didisain untuk dapat menutup sendiri, dapat ditutup dengan baik dan selalu dalam keadaan tertutup.

· Lubang angin harus cukup sehingga udara segar selalu mengalir di ruang produksi

· Lubang angin harus selalu dalam keadaan bersih, tidak berdebu dan tidak dipenuhi sarang labah-labah.

Bangunan dan fasilitas unit pengolahan dapat menjamin bahwa pangan selama dalam proses produksi tidak tercemar oleh bahaya fisik, biologis dan kimia serta mudah dibersihkan dan disanitasi.

f. Kelengkapan ruang produksi

· Ruang produksi seharusnya cukup terang sehingga karyawan dapat mengerjakan tugasnya dengan teliti.

· Di ruang produksi ada tempat untuk mencuci tangan yang selalu dalam keadaan bersih serta dilengkapi dengan sabun dan pengeringnya.

· Di ruang produksi harus tersedia perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK)

g. Tempat Penyimpanan

· Tempat penyimpanan bahan pangan termasuk bumbu dan bahan tambahan pangan (BTP) seharusnya terpisah dengan produk akhir.

· Tempat penyimpanan khusus harus tersedia untuk menyimpan bahan- bahan bukan pangan seperti bahan pencuci, pelumas dan oli.

· Tempat penyimpanan harus mudah dibersihkan dan bebas dari hama seperti serangga, binatang pengerat seperti tikus, burung atau mikroba dan ada sirkulasi udara.

 

3. Peralatan Produksi

 

a. Peralatan produksi seharusnya terbuat dari bahan yang kuat, tidak berkarat, mudah dibongkar pasang sehingga mudah dibersihkan

b. Permukaan yang kontak langsung dengan pangan seharusnya halus, tidak bercelah, tidak mengelupas dan tidak menyerap air.

c. Permukaan yang kontak langsung dengan produk harus dijaga kebersihannya secara rutin sebelum digunakan atau sesuai dengan kebutuhan dengan teknik pembersihan yang sesuai untuk peralatan yang bersangkutan

d. Peralatan produksi harus diletakkan sesuai dengan urutan prosesnya sehingga memudahkan bekerja dan mudah dibersihkan

e. Semua peralatan seharusnya diperlihara agar berfungsi dengan baik dan selalu dalam keadaan bersih.

f. Peralatan yang akan diperbaiki harus dibawah keluar setelah prosesing. Bila ada mesin yang harus diperbaiki selama produksi berjalan, tindakan pencegahan yang layak harus dimbil untuk mencegah kontaminasi produk susu.

g. Perlengkapan dan peralatan harus di desinfeksi segera sebelum penggunaan dan kapanpun bila ada kemungkinan kontaminasi.

 

4. Pembersihan dan desinfeksi peralatan

 

a. Peralatan yang digunakan untuk menangani produk susu cair seharusnya dibersihkan dan didesinfeksi segera setiap periode penggunaan atau sekurang-kurangnya sehari sekali.

b. Peralatan yang digunakan untuk menangani produk kaya lemak seperti mentega dan keju seharusnya dibersihkan sesuai persyaratan, tetapi tidak kurang dari sekali seminggu.

c. Tahapan dasar pembersihan bangunan dan peralatan adalah :

Bilas dengan air untuk mengangkat sisa minyak dengan air dingin atau hangat-hangat kuku (40-500C ), tetapi air panas diatas 85 C digunakan untuk peralatan penyangga. Selanjutnya cuci dengan deterjen hingga seluruh permukaan peralatan bersih. Hal ini harus dilakukan sesuai dengan metode pembersihan yang tepat tergantung pada jenis peralatan yang dicuci. Bilas dengan air dingin berstandar air minum hingga permukaan bersih dari deterjen.

d. Desinfeksi

Desinfeksi peralatan pemerahan harus dilakukan dengan beberapa aturan sebagai berikut :

· Penguapan – Penguapan harus dilakukan 10-15 menit setelah suhu penguapan diatas 85oC.

· Air panas – Air panas dengan suhu 80oC (gunakan air dengan kesadahan rendah untuk menghindari deposisi garam-garam) digunakan tidak kurang dari 20 menit, dan pada pembersihan dengan metode sirkulasi digunakan air panas dengan suhu 85oc selama 15 menit.

· Deterjen/desinfeksi – digunakan sebagai bagian dari proses pembersihan pada suhu antara 45-600 C atau sesuai dengan aturan pembersihannya untuk saluran-saluran susu, tangki penyimpanan dan tangki-tangki lainnya.

 

e. Suplai Air

Tata letak kelengkapan ruang produksi diatur agar tidak terjadi kontaminasi silang. Peralatan produksi yang kontak langsung dengan pangan seharusnya didisain.dikonstruksi dan diletakkan sedemikian untuk menjamin mutu dan keamanan pangan yang dihasilkan. Air yang digunakan selama proses produksi harus cukup dan memenuhi persyaratan kualitas air bersih dan atau air minum.

Persyaratannya sebagai berikut :

· Air yang digunakan harus air bersih dalam jumlah yang cukup memenuhi seluruh kebutuhan proses produksi

· Sumber dan pipa air untuk keperluan selain pengolahan pangan seharusnya terpisah dan diberi warna yang berbeda.

· Air yang kontak langsung dengan pangan sebelum diproses harus memenuhi persyaratan air bersih.

 

Fasilitasi dan Kegiatan Higiene dan Sanitasi

 

Sanitasi Ruangan/Lingkungan tidak ada gunanya apabila semua peralatan dalam kondisi bersih tetapi ruangan dan lingkungan (termasuk petugas/karyawan produksi) dalam kondisi kurang bersih.

Secara garis besar kondisi sanitasi ruangan dan lingkungan yang diinginkan antara lain :

 

1. Peralatan Proses

Permukaan peralatan harus selalu dalam keadaan bersih baik bagian luar ataupun bagian dalam yang akan bersinggungan/kontak dengan susu, yang dicirikan dengan :

· Tidak ada bau dari produk yang membusuk

· Permukaan halus dan bersih

· Permukaan tidak belang-belang karena lidah air

2. Lingkungan yang bersih

· Tembok, lantai dan got harus selalu bersih dan tidak berbau

· Ruang Filling harus disediakan larutan Chlorine di pintu masuk dimana sepatu/boot karyawan harus nyebur (foot-bath)

· Bila kosong lampu Ultra-violet (UV) di ruang filling harus dinyalakan terutama malam hari.

· Harus dijaga tidak ada genangan air baik di dalam maupun diluar ruang proses, termasuk saluran pembuangan limbah.

· Ruang penyimpanan produk (storage area) harus selalu bersih

3. Alat cuci/pembersih

· Alat cuci /pembersih seperti sikat, pel, deterjen, dan bahan sanitasi harus tersedia dan terawat dengan baik.

· Air panas dapat digunakan untuk membersihkan peralatan tertentu.

4. Kebersihan karyawan/Personil yang tinggi Semua karyawan yang ikut menangani produk dari tahap awal produksi sampai akhir harus selalu rapih dan bersih

5. Kegiatan higiene dan sanitasi

· Pembersihan dapat dilakukan secara fisik seperti dengan sikat atau secara kimia seperti dengan deterjen atau gabungan keduanya.

· Jika diperlukan, penyucihamaan dapat dilakukan dengan menggunakan kaporit sesuai petunjuk yang dianjurkan.

· Kegiatan pembersihan, pencucian, dan penyucihamaan peralatan harus dilakukan secara rutin.

· Harus ada karyawan yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pembersihan, pencucian dan penyucihamaan.

 

Fasilitas dan kegiatan higiene dan sanitasi diperlukan untuk menjamin agar bangunan dan peralatan selalu dalam keadaan bersih dan mencegah terjadinya kontaminasi silang dari karyawan

 

Pengendalian Hama

 

Hama (tikus, serangga, dan lain-lain) merupakan pembawa cemaran biologis yang dapat menurunkan mutu dan keamanan pangan. Kegiatan pengendalian hama dilakukan untuk mengurangi kemungkinan masuknya hama ke ruang produksi yang akan mencemari pangan

 

1. Mencegah masuknya hama

· Lubang-lubang dan selokan yang memungkinkan masuknya hama harus selalu dalam keadaan tertutup.

· Hewan peliharaan seperti anjing, kucing, dan ayam tidak boleh berkeliaran di pekarangan IRT apalagi di ruang produksi.

· Bahan pangan tidak boleh tercecer karena dapat mengundang masuknya hama

· IRT seharusnya memeriksa lingkungannya dari kemungkinan timbulnya sarang hama.

2. Pemberantasan hama

· Hama harus diberantas dengan cara yang tidak mempengaruhi mutu dan keamanan pangan.

· Pemberantasan hama dapat dilakukan secara fisik seperti dengan perangkap tikus atau secara kimia seperti dengan racun tikus.

· Perlakuan dengan bahan kimia harus dilakukan dengan pertimbangan tidak mencemari pangan.

 

CARA TRANPORTASI SUSU YANG BAIK

 

Dalam pengangkutan jarak jauh, perlu peralatan pendingin untuk menjaga kesegaran, karena air susu segar kesegarannya hanya mampu bertahan + 3 jam sejak diperah dari induk. Produk harus diangkut dalam kendaraan yang bersih dan menggunakan alat pendingin, pada kondisi yang sesuai dan tidak diletakkan bersama-sama dengan benda-benda lain.

 

1. Transport Susu Mentah

Susu yang telah didinginkan di peternakan atau sentra pendinginan dapat di kirim di dalam can susu atau tangki besar. Tangki pengiriman sudah di isolasi, sehingga susu akan tetap dingin hingga tempat pengolahannya (bila ketersediaan transportasi cepat, misal jarak yang pendek atau fasilitas jalan yang bagus menyebabkan susu dapat dikirim sebelum suhu susu meningkat menjadi 100 C

 

2. Transportasi susu dalam can

Sebagai alternatif, susu dapat diisi ke dalam can dan dikirim dalam cannya. Keuntungannya, susu dari peternak dengan kualitas rendah tidak akan tercampur dengan susu dari peternak yang memiliki kualitas bagus.

Bila can tidak diisolasi, transport menuju industri pengolahan haruslah efisien sehingga memungkinkan susu dapat mencapai pabrik dalam kondisi yang bisa diterima. Dalam kasus peternak mengirimkan susunya dengan sistem kolektif, dianjurkan agar can susu ditempatkan di area yang teduh sembari menunggu kendaraan yang akan mengangkutnya.

Susu dengan kualitas rendah akan ditolak di tempat pengolahan sehingga peternak akan kehilangan uangnya Pengirim susu juga akan kehilangan uangnya jika kesalahan ada dipihaknya. Untuk mencegah hal buruk ini terjadi, penanganan susu yang higiene sangat penting pada setiap tahap; saat di peternakan, tempat pendinginan dan selama transportasi.

 

CARA PEMASARAN SUSU YANG BAIK

 

Produk susu yang dipasarkan harus dalam kondisi dan kualitas yang baik serta dalam kemasan yang menarik, sehingga produk tersebut terjamin aman dan baik untuk dikonsumsi. Produk susu yang dipasarkan adalah produk yang terlebih dahulu diproduksi dan masih dalam jangka waktu kadaluarsa (FIFO: First in First Out).

 

Untuk menjamin produk yang dipasarkan sampai ke konsumen dengan kualitas bagus, aman dan baik untuk dikonsumsi, juga memperhatikan menerapkan cara pendistribusian produk yang benar. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kerusakan produk yang dipasarkan selama pendistribusian.

 

Jika tempat pemasaran berwaktu tempuh lebih dari 1 jam, maka pengiriman produk dilakukan menggunakan alat transportasi yang dilengkapi dengan pendingin. Alat transportasi yang digunakan harus aman dan berfungsi dengan baik. Alat transportasi yang digunakan harus dalam keadaan bersih dan kering sebelum maupun setelah digunakan untuk pendistribusian produk. Jika tidak memungkinkan menggunakan alat transportasi yang dilengkapi pendingin, pendistribusian produk bias dilakukan dengan menggunakan boks es (coolbox) dengan penambahan es untuk menjaga kondisi produk tetap dalam keadaan dingin. Boks es harus dalam keadaan bersih dan kering seblum digunakan, begitu juga setelah dimasukkan produk, boks es harus dalam keadaan bersih dan tertutup rapat.

 

Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :

pengolahan susu sapi (101), pasca panen susu (24), pengolahan susu (22), mengolah susu sapi segar (19), pembuatan susu sapi (19), penanganan susu (18), produk olahan susu sapi (17), cara penyimpanan susu segar (12), cara pasteurisasi susu sapi (12), mengolah susu sapi (12), proses pasteurisasi susu (11), olahan susu sapi (11), Contoh aplikasi proses pasteurisasi (7), produk turunan susu sapi (4), Teknologi pasteurisasi (4), cara membuat susu kemasan (3), Teknologi pasca panen susu (3), pasca panen susu sapi (3), uji phosphatase pada susu (3), penerapan gmp pada industri susu (3), Penanganan susu sapi (3), penyimpanan susu segar yang baik (2), contoh produk teknologi pangan (2), penyimpanan susu sapi segar (2), pengolahan LTLT (2), pengolahan susu ppt (2), pengolahan suhu rendah (2), GMP pengolahan pangan (2), penyimpanan susu yang baik (2), bakteri pasca panen (2), pendinginan susu segar (2), Alat susu UHT (2), cara membuat sabun dari susu sapi (2), cara membuat sabun susu sapi (2), awal pembuatan susu sapi menjadi susu (2), jurnal teknik pengolahan bahan makanan hewani (2), pengaruh penyimpanan air susu sapi terhadap pertumbuhan bakteri (2), penyimpanan susu segar pada suhu rendah (1), perbedaan antara pasteurisasi dengan sterilisasi (1), peraturan susu uht (1), Perbedaan susu segar dengan susu pasteurisasi (1), penyimpanan pasca panen susu (1), pengaplikasian sterilisasi pada pangan (1), pengaruh asal air susu sapi lama transportasi suhu lingkungan dan penyimpanan terhadap jumlah bakteri (1), pengaruh suhu lingkungan/penyimpanan terhadap pertumbuhan bakteri pada air susu sapi (1), pengendalian mutu susu sapi (1), pengertian pengolahan suhu rendah (1), Pengertian sterilisasi dan contoh penerapannya (1), pengertian sterilisasi pada ternak (1), pengolahan air susu yang baik (1), pengolahan sterilisasi (1), penanganan sanitasi pangan (1), perlunya sanitasi untuk produksi susu sapi (1), sterilisasi pada ternak (1), suhu pasteurisasi (1), suhu rendah pada eknologi pengolahan pangan (1), suhu rendah pada proses pengolahan pangan (1), tehnik pascapanen peternakan (1), suhu steril dan pasteurisasi (1), suhu untuk susu sapi agar tahan lama (1), syart mutu tekni pengolahan bahan makanan (1), tabel perbedaan sterilisasi dan pasteurisasi (1), tata cara penyimpanan susu dan daging (1), tata cara penyimpanan susus (1), teknik penyimpanan susu cair (1), tempat penyimpanan susu sapi (1), temperatur kotoran sapi segar (1), thermal proses suhu waktu sterilisasi uht pasteurisasi (1), sterilisasi pada pengolahan pangan pdf (1), sterilisasi hasil olahannya makanan (1), produk makanan sterilisasi (1), proses kimia pembuatan sabun dari susu lembu (1), proses pabrik susu (1), sanitasi baik kualitas susu bagus (1), proses pasteurisasi untuk produksi (1), proses pembuatan susu sapi segar cair (1), proses reaksi kimia pembuatan susu (1), proses sterilisasi dan pateurisasi makanan (1), reaksi biokimia pada yogurt (1), reaksi kimia pada produk basang (1), reaksi kimia pada susu uht (1), resume tentang proses pengolahan susu cair (1), sistem informasi manajemen pabrik pasteurisasi (1), sterilisasi alat pengolahan (1), sterilisasi dan pasteurisasi dalam industri susu cair (1), pppk susu kadaluwarsa (1), penanganan pasca panen ternak (1), alat yang digunakan pada pasca panen (1), contoh kasus hygiene dan sanitasi (1), contoh pasteurisasi (1), contoh susu hasil sterilisasi (1), definisi susu pateurisasi (1), disinfeksi mikroba untuk footbath dengan chlor (1), gambar alat pasteurisasi metode uht (1), gambar skema alur pasteurisasi susu sapi (1), gmp produk olahan susu (1), good hygiene practice pada peternakan sapi perah pdf (1), hasil olah makanan pendinginan (1), jenis sterilisasi pada makanan kemasan (1), jika pasteurisasi tidak mencapai kondisi steril mengapa butuh dipasteurisasi ? (1), jurnal lemak sapi untuk bahan pembuat sabun susu (1), jurnal pengawetan susu (1), jurnal pengolahan bahan pangan (1), contoh aplikasi sterilisasi dan pasteurisasi dalam produk pangan (1), cara sterilisasi terhadap bakteri pada makanan (1), apakah ruang produksi air minum dlm kemasan harus pake ac agar steril (1), aplikasi GMP pabrik keju (1), artikel penyimpanan susu segar (1), bagaimana pengelolaan limbah terhadap sanitasi dan higiene dan peternakan (1), bahan kimia pembuat susu (1), bakteri yang masih tahan suhu rendah pembekuan (1), beda pasteurisasi dan sterilisasi (1), beda susu uht dan susu pasturisasi (1), cara buat sabun dari susu sapi segar (1), cara dan metode sanitasi pada industri susu (1), cara membuat sabun susu pdf (1), cara mengolah susu sapi mentah (1), cara menyusun lemak fisiologi fasca panen (1), cara pemasaran distribusi produk yang masih mentah ataupun diolah pada sapi perah (1), Cara penumpukan daging pasca panen dan peralatan apa saja (1), jurnal pengolahan susu (1), jurnal proses produksi susu (1), menerapkan tehnik sanitasi terhadap peralatan (1), mengapa susu pasteurisasi steril (1), mengolah susu sapi agar awet (1), merancang pengemas yang baik untuk prodak susu sapi (1), metode dan cara sanitasi pada industri susu (1), metode sanitasi limbah di ukm (1), olahan sterilisasi (1), pasca panen daging ppt (1), macam pasteurisasi (1), pascapanen susu (1), Pasteurisasi dalam fisika (1), pemanasan susu pasteurisasi pecah (1), pembuatan sabun dari susu sapi (1), penangan awal produk susu segar (1), penanganan pasca panen sistem produksi (1), membuat susu sapi agar awet (1), manajemen pencegahan dan pengendalian bakteri pada susu sapi (1), jurnal susu yogurt (1), jurnal tentang kontrol kadar air pada pembuatan susu pasteurisasi (1), jurnal tentang perbedaan pasteurisasi dan sterilisasi (1), Lama simpan susu sapi segar (1), lampu uv ruang filling (1), langkah pengendalian agar susu steril (1), latar belakang sanitasi dan hygiene hewan ternak (1), macam - macam suhu rendah (1), macam alat industri pangan pasca panen (1), macam macam sterilisasi bahan pangan (1), macam macam teknologi pengolahan susu (1), macam-macam sterilisasi dengan sistem thermal (1), MAKALAH mikrobiologi pasca panen KOPI (1), makalah tentang penyimpanan bahan makanan dan hasil olahannya (1), makanan dengan cara sterilisasi (1), penanganan pasca panen susu (1)

Artikel Terkait:

  1. Seba Serbi susu Sapi (seri Penanganan dan Pengolahan Susu)
  2. Peralatan Dalam Penanganan Susu Sapi (Seri Penanganan dan Pengolahan Susu Sapi)
  3. Spesifikasi Teknis Mesin Peralatan Industri Pengolahan Susu
  4. Pemeliharaan Sapi Muda dan Sapi Dewasa : Peluang Usaha Sapi Potong
  5. Peluang Usaha Peternakan Usaha Pengolahan Susu