Berusahalah dengan Hati
Ada beberapa ciri khas yang paling menonjol dari para pengusaha-pengusaha baru yaitu bermimpi untung besar dan mendapatkan omset fantastik, royal dan berapi-api. Salah? tidak ada yang salah mengenai sikap dan prilaku seseorang. Jika kita mencoba memahami mengapa seorang pengusaha baru memiliki prilaku tersebut adalah tidak akan sesorang akan memulai usahanya jika orang tersebut tidak memiliki impian akan untung yang besar dan omset yang fantastik. Mereka memilih memasuki kuadrant pengusaha karena mereka yakin dapat mewujudkan itu semua. Sikap royal dan berapi-api menjadi ciri khas orang yang sedang berharap akan suatu tujuan. Royal di anggap perlu karena dalam anggapan mereka royal dapat memberikan dukungan penuh pada usahanya. Berapi-api karena harapan tersebut seakan-akan telah berada di tangan mereka. Hanya sedikit orang yang memulai usahanya dengan tindakan rasional dan terukur. Para pengusaha ini merupakan para pengusaha yang berusaha dengan hati. Ketika harapan itu tidak kunjung datang, api yang menyala-nyala tersebut dapat dengan mudah padam, karena sumber daya yang dimiliki tidak cukup menopang kelangsungan usahanya, alih-alih royal mencoba mencari pembenaran atas langkah mereka justru malah menjerumuskan mereka pada posisi Zero Power, atau bahkan Before Nol Power.
Pengantar yang panjang,.karena hal itu juga pernah dirasakan dan dilakukan saya, sehingga tidak cukup sepuluh atau dua puluh kata untuk mengambarkan kekonyolan yang pernah saya lakukan.
Berusahalah dengan hati
Pengusaha yang berhasil adalah pengusaha yang secara tepat dapat memprediksikan dan meminimalkan efek dari resiko. Untuk mencapai hal tersebut pengusaha harus mampu membuat rencana tindakan dan strategi dalam mencapai tujuannya. Merencana atau membuat rencana dapat menjadi suatu hal yang mudah atau menjadi suatu hal yang paling sulit. Rencana harus di dukung data-data akurat masa lalu dan prediksi / forecast akan kondisi masa depan dengan mengacu pada kondisi sekarang. Hal ini dapat dengan mudah dilakukan jika pengusaha ini mengunakan hati mereka. Penggunaan hati dalam membuat rencana bukan selalu berarti sosial, penggunaan hati karena hati lah yang dapat memprediksikan masa depan. Mungkin kita pernah mendengar cerita dari seorang pengusaha baru seperti ” Gila baru aja dagang sudah untung 1 juta kalau seperti ini terus satu bulan ini bisa untung 10 juta”. Dari ilustrasi tersebut tercermin nafsu sebagai nahkoda usaha, karena kalau di minta menjelaskan lebih lanjut dari mana untung 1 juta tersebut maka akan terdengar ” Margin saya mencapai 40%, orang yang beli tidak tau kalau harga pokok nya cuma 40 %, sedangkan biaya-biaya sekitar 20%”. Wow..Fantastik, tapi pengusaha ini tidak akan bertahan lama, karena yang akan muncul adalah nafsu keserakahan yang mendorong pengusaha tersebut untuk melakukan segala cara untuk dapat mempertahankan pencapaian margin tersebut.
Belajarlah dari pengusaha keturunan Cina
Umumnya pengusaha keturunan memiliki bisnis yang kuat dan bertahan lama, karena mereka tidak memaksakan margin yang besar yang di utamakan adalah volume usahanya. Mereka lebih realistis dan terukur dalam menentukan margin. Margin kecil dengan kuantitas besar lebih menguntungkan dari pada margin besar dengan kuantitas kecil. Penggunaan biaya pun di atur seminimal mungkin. Mengapa mereka bisa seperti itu, karena mereka menggunakan hati. Hati di pergunakan untuk mempertanyakan ‘ Apakah orang mau membeli lagi jika mereka tahu harga yang saya jual sangat tinggi?” dan ” Biarlah untung kecil namun suatu saat orang tersebut butuh akan produk itu dia akan mencari saya kembali.
Hati untuk Bertahan dan Berkembang
Hati memberikan kombinasi yang baik antar nafsu, perasaan dan realistis. Penggunaan hati mampu memberikan ukuran yang paling sesuai untuk dapat mempertahankan bisnis dan mengembangkan bisnis. Hindari penentuan margin yang tinggi, bila mana margin tersebut bukan berasal dari keunggulan intelektual. Keuntungan dari keunggulan intelektual seperti produsen farmasi yang menjual obat dengan harga tinggi, karena obat itu hanya dimiliki dan di produksi oleh mereka, hal ini sah-sah saja dilakukan. Namun bila produk dan jasa kita merupakan produk dan jasa yang umum dan dapat dengan mudah di tiru orang lain, kejarlah volume, kejarlah Gross Margin bukan net margin. Hati lah yang berbicara maka berusahalah dengan hati.
Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :
omset budidaya gurame (1), usaha dengan margin besar (1), usaha margin besar (1)Artikel Terkait:

Leave a Reply