Tehnik Budidaya Ikan Patin (Bagian 2)
Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tehnik budidaya ikan patin, dalam bahasan kali ini ada baiknya kita mengetahui permasalahan-permasalahan yang mungkin dihadapi dalam budidaya ikan patin. Secara umum kendala yang dihadapi dalam budidaya ikan patin adalah serangan penyakit dan hama. Dengan demikian kegagalan yang mungkin timbul dapat di minimalisir. Dengan persiapan yang matang sangat menunjang keberhasilan budidaya ikan patin. Akan dibahas pula cara pemanenan dan penanganan pasca panen pada budidaya ikan pantin.
JENIS PENYAKIT PADA BUDIDAYA IKAN PATIN
Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit non- infeksi adalah penyakit yang timbul akibatadanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular. Sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.
PENYAKIT AKIBAT INFEKSI
Organisme patogen yang menyebabkan infeksi biasanya berupa parasit, jamur, bakteri, dan virus. Produksi benih ikan patin secara masal masih menemui beberapa kendala antara lain karena sering mendapat serangan parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) sehingga banyak benih patin yang mati, terutama benih yang berumur 1-2 bulan. Dalam usaha pembesaran patin belum ada laporan yang mengungkapkan secara lengkap serangan penyakit pada ikan patin, untuk pencegahan, beberapa penyakit akibat infeksi berikut ini sebaiknya diperhatikan.
a. Penyakit parasit
Penyakit white spot (bintik putih) disebabkan oleh parasit dari bangsa protozoa dari jenis Ichthyoptirus multifilis Foquet. Pengendalian: menggunakan metil biru atau methilene blue konsentrasi 1% (satu gram metil biru dalam 100 cc air). Ikan yang sakit dimasukkan ke dalam bak air yang bersih, kemudian kedalamnya masukkan larutan tadi. Ikan dibiarkan dalam larutan selama 24 jam. Lakukan pengobatan berulang-ulang selama tiga kali dengan selang waktu sehari.
b. Penyakit jamur
Penyakit jamur biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan. Penyakit ini biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan. Penyebab penyakit jamur adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Pada kondisi air yang jelek, kemungkinan patin terserang jamur lebih besar. Pencegahan penyakit jamur dapat dilakukan dengan cara menjaga kualitas air agar kondisinya selalu ideal bagi kehidupan ikan patin. Ikan yang terlanjur sakit harus segera diobati. Obat yang biasanya di pakai adalah malachyt green oxalate sejumlah 2 -3 g/m air (1 liter) selama 30 menit. Caranya rendam ikan yang sakit dengan larutan tadi, dan di ulang sampai tiga hari berturut- turut.
c. Penyakit bakteri
Penyakit bakteri juga menjadi ancaman bagi ikan patin. Bakteri yangsering menyerang adalah Aeromonas sp. dan Pseudo-monas sp. Ikan yang terserang akan mengalami pendarahan pada bagian tubuh terutama di bagian dada, perut, dan pangkal sirip. Penyakit bakteri yang mungkin menyerang ikan patin adalah penyakit bakteri yang juga biasa menyerang ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu Aeromonas sp. dan Pseudomonas sp. Ikan patin yang terkena penyakit akibat bakteri, ternyata mudah menular, sehingga ikan yang terserang dan keadaannya cukup parah harus segera dimusnahkan. Sementara yang terinfeks, tetapi belum parah dapat dicoba dengan beberapa cara pengobatan. Antara lain:
(1) Dengan merendam ikan dalam larutan kalium permanganat (PK) 10-20 ppm selama 30-60 menit, (2) Merendam ikan dalam larutan nitrofuran 5-10 ppm selama 12-24 jam, atau (3) merendam ikan dalam larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.
PENYAKIT NON INFEKSI
Penyakit non-infeksi banyak diketemukan adalah keracunan dan kurang gizi. Keracunan disebabkan oleh banyak/faktor seperti pada pemberian pakan yang berjamur dan berkuman atau karena pencemaran lingkungan perairan.
Gejala keracunan dapat diidentifikasi dari tingkah laku ikan.
· Ikan akan lemah, berenang megap-megap dipermukaan air. Pada kasus yang berbahaya, ikan berenang terbalik dan mati. Pada kasus kurang gizi, ikan tampak kurus dan kepala terlihat lebih besar, tidak seimbang dengan ukuran tubuh, kurang lincah dan berkembang tidak normal.
· Kendala yang sering dihadapi adalah serangan parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) mengakibatkan banyak benih mati, terutama benih yang berumur 1-2 bulan.
· Penyakit ini dapat membunuh ikan dalam waktu singkat.
· Organisme ini menempel pada tubuh ikan secara bergerombo sampai ratusan jumlahnya sehingga akan terlihat seperti bintik-bintik putih.
· Tempat yang disukai adalah di bawah selaput lendir sekaligus merusak selaput lendir tersebut.
JENIS HAMA PADA BUDIDAYA IKAN PATIN
Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Hama serupa juga terdapat pada usaha pembesaran patin sistem hampang (pen) dan karamba. Karamba yang ditanam di dasar perairan relatif aman dari serangan hama. Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama lain berupa ikan liar pemangsa adalah udang, dan seluang (Rasbora). Ikan-ikan kecil yang masuk kedalam wadah budidaya akan menjadi pesaing ikan patin dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen.
Untuk menghindari serangan hama pada pembesaran di jala apung (rakit) sebaiknya ditempatkan jauh dari pantai. Biasanya pinggiran waduk atau danau merupakan markas tempat bersarngnya hama, karena itu sebaiknya semak belukar yang tumbuh di pinggir dan disekitar lokasi dibersihkan secara rutin.
Cara untuk menghindari dari serangan burung bangau (Lepto-tilus javanicus), pecuk (Phalacrocorax carbo sinensis) blekok (Ramphalcyon capensis capensis) adalah dengan menutupi bagian atas wadah budi daya dengan lembararan jaring dan memasang kantong jaring tambahan di luar kantong jaring budi daya. Mata jaring dari kantong jaring bagian luar ini dibuat lebih besar. Cara ini berfungsi ganda, selain burung tidak dapat masuk, ikan patin juga tidak akan berlompatan keluar.
PANEN
PENANGKAPAN
Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir kemudian bergerak kebagian hulu. Jadi bila ikan didorong dengan kere maka ikan patin akan terpojok pada bagian hulu. Pemanenan seperti ini menguntungkan karena ikan tetap mendapatkan air yang segar sehingga kematian ikan dapat dihindari.
PEMBERSIHAN
Ikan patin yang dipelihara dalam hampang dapat dipanen setelah 6 bulan. Untuk melihat hasil yang diperoleh, dari benih yang ditebarkan pada waktu awal dengan berat 8-12 gram/ekor, setelah 6 bulan dapat mencapai 600-700 gram/ekor. Pemungutan hasil dapat dilakukan dengan menggunakan jala sebanyak 2-3 buah dan tenaga kerja yang diperlukan sebanyak 2-3 orang. Ikan yang ditangkap dimasukkan kedalam wadah yang telah disiapkan.
PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan patin dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar.
1. Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
· Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat C.
· Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
· Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
2. Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
· Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
· Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
· Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm.
· Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C. Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak.
3. Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah sebagai berikut:
· Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
· Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air sumur yang telah diaerasi semalam.
· Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari. Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1m x1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000-6000 ekor dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran benihnya.
Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat di isi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
2. Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na (hpo) .1H O sebanyak 9 gram.
Cara pengemasan benih ikan yang 2 4 2 diangkut dengan kantong plastik:
(1) masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih; (2) hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga (air:oksigen=1:1); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat
tujuan adalah sebagai berikut:
· Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam 10 liter air bersih).
· Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik terjadi perlahan-lahan.
· Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2 menit.
· Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
· Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
Pengemasan benih harus dapat menjamin keselamatan benih selama pengangkutan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan benih ikan patin yaitu:
· Sediakan kantong plastik sesuai kebutuhan. Setiap kantong dibuat rangkap untuk menghindari kebocoran. Sediakan karet gelang untuk simpul sederhana. Masing-masing kantong diisi air sumur yang telah diaerasi selama 24 jam.
· Benih ikan yang telah dipuasakan selama 18 jam ditangkap dengan serokan halus kemudian dimasukan kedalam kantong plastik tadi.
· Satu persatu kantong diisi dengan oksigen murni (perbandingan air:oksigen = 1:2). Setelah itu segera diikat dengan karet gelang rangkap.
· Kantong-kantong plastik berisi benih dimasukkan kedalam kardus. Lama pengangkutan. Benih ikan patin dapat diangkut selama 10 jam dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 98,67%. Jika jarak yang hendak ditempuh memerlukan waktu yang lama maka satu-satunya cara untuk menjamin agar ikan tersebut selamat adalah dengan mengurangi jumlah benih ikan di dalam setiap kantong plastik. Berdasarkan penelitian terbukti bahwa benih patin masih aman diangkut selama 14 jam dengan kapadatan 300 ekor per liter.
Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :
budidaya ikan patin (67), budidaya ikan patin 2011 (37), penanggulangan penyakit dan parasit pada ikan (31), cara ternak patin (25), ikan patin (18), Penyakit ikan patin (15), cara budi daya patin (10), cara packing ikan patin (5), budidaya patin organik (4), makalah perikanan (4), contoh makalah perikanan (4), kendala budidaya ikan (3), obat ikan patin sering mati (3), penyakit yang menyerang benih ikan bandeng (2), cara beternak patin supaya cepat besar (2), kendala budidaya ikan gurame (2), kendala budidaya ikan patin (2), contoh makalah pembiakan virus (2), pemecahan masalah usaha budidaya ikan patin (2), permasalahan yang dihadapi budidaya ikan patin (2), ikan patin cepat besar (2), bakteri pseudomonas pada ikan patin (2), cara membudi daya ikan nila (2), mengobati ikan bawal nila yang mudah mati karna air (2), budidaya patin dan pencegahan penyakit (2), supaya benih patin cepat besar (2), Obat untuk jamur parasit bakteri pada bibit ikan patin lele dan gurami (1), obat untuk white spot (1), pemecahan masalah budidaya ikan patin (1), mengatasi masalah ikan bawal (1), maslah obat ikan (1), penanganan udang terinfeksi penyakit (1), morfologi bakteri pseudomonas penyebab penyakit ikan (1), obat untuk ikan paten yg luka (1), mengatasi masalah white spot pada ikan patin (1), obat jamur untuk ikan patin (1), Obat jamur bibit ikan patin (1), obat ikan pseudomonas (1), packing ikan lele (1), obat ikan patin cepat besar (1), morfologo bakteri pseudomonas sp (1), Macam-macam pembenihan bakteri (1), obat patin agar cepat besar (1), penanggulangan ikan patin terkena penyakit (1), permasalaan usaha ikan (1), penyebab dari bakteri aeromonas pada ikan patin (1), permasalahan dalam usaha ikan mas (1), permasalahan ikan patin (1), sebutkan jenis-jenis penyakit yang menyerang ikan (1), Sebutkan penyakit/ bakteri yang menyerang ikan (1), siklus hidup bakteri pseudomonas sp (1), tehnik pembesaran patin (1), timbuknya bakteri aeromonas (1), penyebab bibit ikan nila mati (1), penyakit ternak ikan nila akibat luka (1), penanggulangan penyakit pada patin (1), Pencegahan Penyakit jamur ikan emas (1), pengartian kompetitor dalam budidaya ikan (1), pengepakan dan pengemasan ikan hidup (1), pengobatan patin kena jamur (1), penyakit baru yang menyerang ikan air tawar (1), www obat agar ikan patin cepat besar (1), penyakit penyakit infeksi yang dihadapi pada budidaya ikan (1), tips budidaya patin (1), masalahan budidaya ikan gurami (1), bakteri pseudomonas pada ikan nila (1), faktor kematian ikan nila (1), faktor pemicu kematian ikan patin (1), Faktor penyebab bibit patin mati (1), ichthyoptirus multifilis (1), ikan lele yang terkena jamur bagaimana penanganannya (1), ikan nila dan patin cepat besar (1), ikan patin supaya cepat besar (1), ikan tawar yang cepat besar (1), jamur ikan gurami (1), faktor ikan hias cepat mati (1), etiologi pseudomonas pada ikan (1), bakteri yang menyerang pada ikan nila (1), benih ikan lele terserang jamur apa obatnya (1), cara budidaya ikan seluang (1), cara mengatasi bakteri pseudomonas sp (1), cara menghilangkan jamur pada ikan nila (1), cara penanganan bakteri pseudomonas sp (1), cara pengendalian hama lingsang pada budidaya ikan lele (1), caranya ikan patin cepat besar (1), dampak bakteri pseudomonas sp (1), jamur pada ikan air tawar (1), kasus kematian ikan karena saprolegnia (1), keberhasilan budidaya patin (1), langkah perawatan ikan yang terserang bakteri dan jamur (1), laporan parasit dan penyakit ikan (1), cara mengatasi lingsang (1), makalah mortalitas di perairan (1), makalah pembesaran ikan (1), makalah pembesaran ikan baung (1), Makalah tingkah laku pada ikan nila (1), masalah budidaya patin (1), masalah dalam penanganan ikan (1), kumpulan penyakit ikan air tawar (1), klasifikasi bakteri pseudomonas sp pada ikan nila (1), kenapa bibit patin mudah mati? (1), kendala budidaya perikanan (1), kendala dalam pembibitan ikan nila (1), kendala dalam proses pemijahan ikan (1), kendala memelihara pada ikan bandeng (1), kendala yang dihadapi dalam kegiatan budidaya perikanan (1), kendala yang dihadapi dalam proses produksi jamur tiram (1), kendala-kendala penanganan pasca panen ikan mas (1), kendala-kendala penanganan pasca panen perikanan (1), masalah yang ditimbulkan ikan mas (1)Artikel Terkait:

Leave a Reply