Perkebunan kakao merupakan sektor perkebunan padat karya terutama dalam upaya pemberantasan mata rantai hama tanaman yang cukup pan­jang masanya, sehingga faktor tersebut harus dimasukan sebagai komponen fix pembiayaan yang memakan dana cukup besar. Karena itu perkebunan besar swasta lebih tertarik investasi di sektor perkebu­nan kelapa sawit misalnya, yang hanya terfokus pembiayaannya kepada pemupukan dan masa panen. Sedangkan untuk tanaman kakao yang dikelo­la oleh perkebunan rakyat, pemberantasan hama tanaman dianggap zero cost karena perawatan tanaman tersebut adalah sebagai selingan dari berbagai komoditi yang digarap oleh petani.

Menimbang berbagai permasalahan tersebut, perkebunan lebih feasible untuk dikelola oleh perkebunan rakyat. Namun demikian tidak berarti perkebunan besar tidak bisa mengkelola sektor perkebunan tersebut. Hanya saja memerlukan berbagai persyaratan, agar pengelolaan perke­bunan tersebut bisa efisien. Pertama harus mengubah paradigma dan sistem pengelolaan perkebunan itu sendiri, misalnya mengurangi pem­berian fasilitas transportasi / akomodasi bagi staf dan manager area yang secara baku diberikan pada usaha di sektor perkebunan lainnya. Kemudian 50% dari lahan perkebunan besar seluas 400 Ha, harus meru­pakan lahan tanah S1 yang bisa menghasilkan biji kakao 1,5 ton per hektar. Atau setidaknya memiliki komposisi kategori lahan S1 (lahan subur) dan S2 (lahan kurang subur) lebih besar dibandingkan lahan S3 (lahan tidak subur).

a. Padat Karya

Perkebunan kakao dalam skala besar akan mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak, mulai dari tahap persiapan lahan sampai pasca penen. Untuk persiapan lahan. Sebagaimana diketahui, lahan yang akan diper­gunakan utuk tananam kakao, dapat berasal dari lahan alang-alang dan semak belukar, lahan primer maupun lahan konversi. Pada lahan alang- alang dan semak belukar, cara pembukaan lahan dilakukan dengan pembabatan secara manual. Begitu juga untuk penebangan, penebasan, pembongkaran tunggul dan pendongkelan perdu untuk lahan primer atau lahan konversi. Setelah itu kebutuhan tenaga kerja masih tetap banyak diperlukan untuk pengolahan tanah, pengendalian gulma, pem­berantasan hama, pemetikan buah hingga pasca panen (pengeringan/fer­mentasi dan penyortiran kakao).

b. Harga Berfluktuasi

Selain berdasarkan kualitas biji kakao yang dinilai atas faktor fisik, harga kakao sangat terkait dengan faktor ekonomi didasarkan atas pasokan produk dan kebutuhannya. Faktor supply dan demand ini mengatur harga jual/beli kakao, terutama diatur pada pasaran kakao mendatang di London dan New York. Sebagai komoditas ekspor, harga kakao di dalam negeri akan terpengaruh langsung oleh fluktuasi harga di pasar internasional.

Sebelum harga kakao cenderung menguat di pasar dunia belakangan ini, komoditas tersebut mengalami fluktuasi yang cenderung terus menurun, sehingga sektor ini kurang diminati investor perkebunan besar swasta. Lain halnya kelapa sawit, investor sempat mengalami booming karena sebagai produsen kelapa sawit kedua setelah Malaysia, Indone­sia memiliki posisi tawar yang cukup baik untuk mengkondisikan harga kelapa sawit di pasar dunia.

c. Perawatan Intensif

Kualias kakao Indonesia di pasar dunia tidak cukup memenuhi kualitas yang diinginkan, karena itu ekspor ke Amerika di antaranya dikenai diskon secara langsung (automatically detention). Hal ini selain penanganan pasca panen yang tidak cukup baik, terutama juga men­yangkut perawatan kakao rakyat yang tidak cukup intensif. Sebab dengan kecenderungan terkena serangan berbagai hama dan gulma, menjadikan perkebunan kakao membutuhkan perawatan yang intensif.

Hama yang sering menyerang tanaman kakao, antara lain belalang, ulat jengkal (Hypsidra talaka Walker), kutu putih (Planoccos lilaci), penghisap buah (Helopeltis sp) dan penggerek batang (Zeuzera sp). Sedangkan penyakit yang sering diketemukan adalah jamur upas dan jamur akar. Penyakit tersebut disebabkan oleh cendawan (Oncobasidium thebromae). Selain itu juga sering ditemui penyakit buah busuk yang disebabkan oleh Phytoptora sp. Untuk itu diperlukan pemberian insektisida (Decis, Supraycide, Lebaycide, Coesar dan Atabron). Secara berkesinambungan, serta pemberian fungisida (Byleton dan Meneb) untuk memberantas berbagai penyakit jamur maupun gulma.

d. Komoditas Ekspor

Terbatasnya daya serap kakao di dalam negeri, maka produk perkebunan ini tetap merupakan komoditas ekspor. Sementara itu, perkebunan kakao di Indonesia masih dalam proses pengembangan, sehingga kondisi pasarnya akan sangat tergantung dari pasok kakao dari negera-negara produsen utama. Di samping itu, industri pengolahan kakao dunia dikuasai oleh jaringan produsen besar dari negara-negara maju, se­hingga sulit bagi industri pengolahan di dalam negeri untuk mengemb­angkan usahanya tanpa terkait dengan jaringan pemasaran mereka.

e. Musim Perawatan

Musim panen utama (main crope) kakao Indonesia adalah bulan Septem­ber sampai Desember dan musim panen kedua (mid crope) pada bulan Maret dan Juli. Selain sepanjang bulan tersebut, perkebunan kakao membutuhkan perawatan intensif, terutama berkaitan dengan rentannya tanaman tersebut terhadap berbagai serangan hama, serta perlunya pemberantasan dari berbagai gulma yang akan menghambat produktifitas tanaman kakao.

f. Pengolahan di Dalam Negeri

Selain pusat industri pengolahan kakao di dalam negeri jauh dari sentra perkebunan kakao, juga kebanyakan industri pengolahan terse­but tidak terintegrasi dengan produksi bahan bakunya. Sehingga industri pengolahan memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap produsen biji kakao. Karena itu industri pengolahan sekarang ini banyak yang kolaps, sehubungan dengan sulitnya memperoleh bahan baku yang saat ini banyak diekspor bahkan buyers-nya langsung membeli biji kakao di sentra produksi. Padahal bilamana industri pengolahan berkembang di dalam negeri, akan memberikan nilai tambah bagi pendapatan dan devisa negara.

Technorati :
Del.icio.us :
Zooomr :
Flickr :

Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :

perawatan kakao (15), karakteristik kakao (9), cara pemberantasan hama kakao dan perawatan (3), pengolahan lahan coklat (2), proses pengolahan tanaman industri kakao (swasta/negara) (1), penyiapan lahan kakao (1), pengelolaan tenaga kerja di kebu (1), merawatcoklat (1), manajemen tanaman kakao industri (1), manajemen operasi industri coklat (1), karateristik kakao (1), contoh pengolahan perkebunan rakyat pada tanaman kakao (1), usaha perkebunan kakao (1)

Artikel Terkait:

  1. Prospek Jangka Pendek Industri Kakao / Coklat
  2. KAKAO
  3. Kakao sebagai Komoditas Ekspor Indonesia
  4. Peta Penyebaran Komoditas Kakao
  5. Posisi Komoditi Kakao Indonesia