Kakao merupakan komoditas perkebunan yang memiliki peranan penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara (USD 668 juta per tahun). Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Indonesia adalah penghasil biji kakao nomor tiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Indonesia berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia, apabila berbagai permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dan agribisnis kakao dikembangkan dan dikelola secara baik.

Indonesia masih memiliki lahan potensial yang cukup besar untuk pengembangan kakao. Areal perkebunan kakao tercatat seluas 992.546 hektar dengan produksi 652.350 ton yang tersebar di 29 propinsi dengan sentra produksi Sulsel, Sulteng, Sultra, Sumut, Kaltim, NTT dan Jatim. Sebagian besar (>90%) areal perkebunan kakao tersebut dikelola oleh rakyat. Areal perkebunan tersebut masih berpeluang untuk ditingkatkan produktivitasnya karena produktivitas rata-rata masih kurang dari 50%.

Situasi kakao dunia beberapa tahun terakhir sering mengalami defisit, sehingga harga kakao dunia stabil pada tingkat yang tinggi. Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik untuk dimanfaatkan. Namun harga kakao dunia yang tinggi tersebut tidak bisa dimanfaatkan se-cara optimal oleh pe-tani kakao karena ada beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain: serangan hama penggerek buah kakao (PBK), mutu produk yang relatif rendah, fluktuasi harga yang cukup tajam dan sangat tergantung pasar internasional.

Fluktuasi harga yang cukup tajam sangat mempengaruhi perilaku petani khususnya terkait dengan pengelolaan kebun dan perbaikan mutu produk. Pada saat harga berfluktuasi tajam, petani pada umumnya ingin cepat menjual hasil kebunnya tanpa melakukan pengolahan yang memadai, sehingga mutunya rendah. Untuk mengatasi hal ini, percepatan pengembangan industri pengolahan biji kakao menjadi sangat strategis untuk meraih nilai tambah dan meredam fluktuasi harga, sekaligus mengurangi ketergantungan biji kakao terhadap pasar internasional. Namun industri pengolahan kakao Indonesia masih menemui beberapa kendala antara lain: infrastruktur yang terbatas, PPN, kualitas kakao yang tidak stabil, persaingan di pasar luar negeri, pengusaha lebih suka menjadi eksportir biji kakao daripada membangun industri pengolahan.

Upaya peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang strategis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Perkembangan ekspor biji kakao dari Indonesia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagian besar biji kakao Indonesia diekspor ke luar negeri, walaupun pada saat ini sudah ada beberapa industri pengolahan biji kakao menjadi produk setengah jadi.

Kendala utama yang dihadapi komoditas kakao yang diekspor adalah kualitas biji kakao Indonesia yang kurang baik, seperti yang disyaratkan bagi produk ekspor yaitu standar mutu biji, persyaratan kesehatan, lingkungan dan biji kakao tersebut harus difermentasikan terlebih dahulu sebelum diekspor. Mutu biji kakao Indonesia relatif rendah dibandingkan negara lain. Indonesia tidak dapat memenuhi permintaan biji kakao yang telah difermentasi dan adanya kecenderungan praktik ijon yang diterapkan oleh beberapa importir yang memanfaatkan para agen pengumpul di sentra produksi kakao utama seperti Sulawesi Tenggara dan Tengah.

Saat ini produksi kakao Indonesia dikenakan diskon harga (automatic detention) yang besarnya antara USD 90-150/ton, khususnya untuk pasar Amerika Serikat. Diskon harga tersebut cukup memberatkan petani kakao. Karena itu perbaikan mutu menjadi suatu keharusan disamping lobi untuk mengurangi atau menghapuskan diskon harga tersebut. Demikian juga apresiasi terhadap kakao Sulawesi di bursa CMA New York, AS terus memburuk dan sulit bersaing dengan negara lainnya. CMA hanya menghargai kakao Sulawesi dengan memberikan harga premium sebesar USD 21/ton, sehingga total harga kakao Sulawesi menjadi USD 1.534/ton. Sementara kakao Afrika dari Pantai Gading dan Ghana, harga premiumnya mencapai USD 228 sampai USD 322.

Pesaing kakao Indonesia di pasar Uni Eropa adalah negara-negara yang memperoleh fasilitas bebas bea masuk, seperti: Pantai Gading yang menguasai hampir setengah (41,54%) dari pasokan yang dibutuhkan UE, Ghana, Nigeria, Kamerun, Brazil, Ecuador dan Swiss. Indonesia masuk dalam kelompok negara berkembang hanya memperoleh pengurangan tarif sebesar 3,5% dari tarif yang berlaku umum (Most Favoured Nations).

Menteri Pertanian menyatakan dengan potensi yang dimiliki, Indonesia siap menjadi produsen maupun eksportir kakao terbesar di dunia. Sesuai dengan program Deptan dalam peta komoditas kakao, pada tahun 2020 luas areal kakao ditargetkan mencapai sekitar 1,4 juta ha yang akan ditempuh melalui kegiatan program Revitalisasi Pengembangan Kakao. Kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas menjadi 1.750 kg/ha/tahun atau produksi lebih dari dua juta ton. Mentan menyatakan bahwa hal tersebut dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas, penggunaan varietas unggul dan hasil produksi difermentasi dengan baik. Pemerintah juga berencana memberikan subsidi kredit kepada petani guna mengembangkan perkebunan kakao.

Technorati :
Del.icio.us :
Zooomr :
Flickr :

Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :

pengertian buah coklat (2), produk setengah jadi buah (2), pengolahan kakao dan kendalanya (2), produk setengah jadi (1), perkembangan kakao (1), pengertian industri coklat (1), cokelat setengah jadi (1), LUAS AREAL PERKEBUNAN KAKAO TAHUN 2010-2011 (1), harga kakao indonesia di diskon 2010 (1), fluktuasi ekspor kakao sulsel (1), export coklat setengah jadi (1), ekspor biji kakao oleh indonesia kepada UE selama tahun 2010-2011 (1), Devinisi biji kakao (1), standar mutu kakao di internasional tahun terbaru (1)

Artikel Terkait:

  1. Kakao sebagai Komoditas Ekspor Indonesia
  2. Peta Penyebaran Komoditas Kakao
  3. Prospek Jangka Pendek Industri Kakao / Coklat
  4. Karakteristik industri kakao
  5. Posisi Komoditi Kakao Indonesia