Resiko menjabarkan suatu keadaan yang memungkinkan adanya berbagai macam hasil usaha atau berbagai macam akibat dari usaha-usaha tertentu. Resiko menjabarkan keadaan yang hasil dan akibatnya mengikuti suatu penjabaran kemungkinan yang diketahui (Honours, 1989). Resiko dalam sektor pertanian, misalnya karena kegiatan di dalam unit usaha tersebut sangat dipengaruhi oleh cuaca, sifat alam lainnya, wabah penyakit, dan perubahan harga yang tidak dapat dikuasai petani. Resiko sektor industri pengolahan susu dapat digambarkan melalui titik kritis industri sebagai berikut.

Titik Kritis Industri Susu

Titik kritis penentu keberhasilan industri pengolahan susu dalam persaingan perlu memperhatikan mutu yang baik, produktivitas tinggi dan harga yang bersaing. Pabrik pengolahan susu mempunyai keterikatan mutu terhadap produk yang dibuat dan diserahkan kepada pelanggan yaitu produk susu olahan tersebut harus selalu memenuhi kriteria dan harapan para pelanggan. Kualitas mutu dari setiap produk yang dihasilkan, agar dapat memuaskan konsumen, perlu menerapkan sistem manajemen mutu yang mengacu pada SNI dan standar internasional ISO 9002, selain pemenuhan pesanan tepat waktu dan tepat jumlah.

Bahan baku susu segar merupakan produk peternakan yang mudah rusak dan perlu penanganan pasca produksi yang cepat. Susu segar mudah pecah, menjadi asam dan terkontaminasi bahan-bahan lain yang bisa menurunkan mutu susu. Selesai diperah, susu segar harus segera dibawa ketempat penampungan susu untuk kemudian dilakukan perlakuan pendinginan sampai suhu 40 C. Susu dingin ini kemudian diangkut ke pabrik pengolahan susu dengan mobil berpendingin dan kemudian diolah menjadi produk olahan susu. Penanganan pengangkutan susu perlu diperhatikan untuk memperkecil kemungkinan adanya susu yang rusak. Kemungkinan kerusakan susu selama pengangkutan dapat diminimalisasi dengan sistem pipa dari depot-depot susu ke pabrik pengolahan susu.

Pasokan bahan baku langsung industri pengolahan susu yang digunakan adalah susu segar yang diperoleh dari koperasi, sedangkan bahan baku tidak langsung meliputi bahan-bahan penolong seperti air, gula, starter dan essens yang tergantung dari produk susu olahan yang diproduksi (misalnya aneka rasa coklat, moka, strawberry) serta kemasan untuk produk susu olahan. Bahan lainnya berupa bahan pembersihan mesin proses pengolahan dan alat-alat mesin seperti minyak gemuk, soda kaustik, desinfektan dan lainnya. Bahan-bahan ini harus tersedia dalam jumlah cukup dan sepanjang waktu untuk menjamin proses produksi pengolahan susu berhasil.

Mutu susu segar yang masuk ke pabrik pengolahan sangat mempengaruhi produk olahan susu dan biaya yang dikeluarkan. Pengkajian mutu susu segar yang akan digunakan dalam proses produksi dilakukan pada dua parameter mutu utama, yaitu: kandungan kadar lemak dan kadar non lemak, sebab keduanya mempengaruhi harga beli pabrik dari koperasi.

Selama proses produksi, perlu dilakukan upaya untuk menekan terjadinya kerusakan produk (rework dan reject). Reject pada proses pengolahan susu terjadi bila bahan susu jatuh ke lantai atau jatuh pada saat proses pengemasan, tidak dapat diproses lagi. Sedangkan rework terjadi pada saat bahan susu yang pertama kali keluar dari silo untuk masuk ke proses pengemasan, dan jumlah yang diperbolehkan untuk di rework, maksimum 5% dari jumlah produksi yang akan dilaksanakan. Terjadinya kerusakan produk (rework dan reject) akan menambah biaya yang harus dikeluarkan dan mengurangi laba.

Bagian yang menjadi kemungkinan terjadinya rework adalah chamber, bagging station, sifter, filling dan dust collector. Sedangkan untuk reject adalah bagian quality assurance, chamber, filling, strainer dryer, evaporator, HTST, strainer compounding dan vibro. Faktor-faktor yang menyebabkan tingginya reject dan rework pada bagian-bagian tersebut adalah faktor manusia, lingkungan, mesin dan bahan baku.

Upaya mengurangi jumlah reject dan rework dengan pengambilan sampel di laboratorium oleh quality assurance sebaiknya disesuaikan dengan keperluan. Untuk bagian chamber, perlu pemeriksaan suhu secara terus menerus, agar mengurangi susu yang gosong sehingga jumlah reject dapat dikurangi. Pada bagian sifter, suhu mesin sebaiknya terus dijaga dan intensitas karyawan membuka dan menutup sifter harus dikurangi agar rework dan reject produk berkurang. Pada bagian bagging station, pencucian pipa-pipa sebaiknya dilakukan secara rutin. Pada bagian filling, mesin pengisi susu sebaiknya dilakukan secara berkala, untuk menekan reject produk.

Pada bagian penyimpanan susu sementara (storage tank), untuk menghindari kerusakan pada susu perlu diperhatikan suhu penyimpanan yaitu 40 C. Susu bisa rusak pada bagian ini bila terjadi aliran listrik padam. Untuk mengantisipasinya, perlu sumber listrik cadangan.

Technorati :
Del.icio.us :
Zooomr :
Flickr :

Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :

Bahan penolong susu (1), titik kritis pada proses pembuatan susu kemasan (1), titik kritis pada pengolahan susu (1), sumber risiko pengusaha susu (1), risiko strainer (1), risiko pabrik (1), risiko industri pabrik terhadap pemerintah (1), resiko usaha susu segar (1), proses penampungan susu segar pada koperasi susu (1), olahan susu segar dan proses produksiny (1), mutu susu pabrik (1), MEMPENGARUHI BAHAN susu (1), kemungkinan kerusakan pada susu (1), estimasi biaya usaha pengolahan susu (1), bahan-bahan dan peralatan pada pabrik susu (1), titik kritis penyimpanan susu segar (1)

Artikel Terkait:

  1. RISIKO-RISIKO INDUSTRI, CRITICAL POINT FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN INDUSTRI FURNITURE DI INDONESIA
  2. Spesifikasi Teknis Mesin Peralatan Industri Pengolahan Susu
  3. STANDAR TEKNIS INDUSTRI SUSU
  4. DEFINISI RISIKO DAN MANAJEMEN RISIKO (seri Management Resiko untuk Usaha Kecil dan Menengah) UKM
  5. Implikasi Kebijakan Pemerintah terhadap Industri Susu