Daging maupun telur ayam ras telah menjadi komoditas strategis dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Peran strategis tersebut setidaknya dalam hal pemenuhan kebutuhan protein hewani dan instrumen pemberdayaan masyarakat. Respon positif dalam bisnis budidaya ayam ras baik oleh dukungan pemerintah maupun preferensi masyarakat menciptakan keterkaitan ke depan (forward linkage) dengan tumbuhnya industri pembibitan.

Industri pembibitan ayam ras telah berkembang sedemikian sistematis dan hirarkis yang satu sama lain terkait secara fungsional. Secara hirarkis industri pembibitan ayam ras terdiri dari : (1) tingkat Pure Line (PL) yang memproduksi DOC Grand Parent Stock (GPS), (2) GPS yang memproduksi DOC Parent Stock (PS), dan (3) PS yang memproduksi DOC Final Stock (FS). Permintaan DOC PL merupakan turunan (derivat) dari permintaan DOC GPS dan permintaan DOC GPS merupakan derivat dari permintaan DOC PS, demikian seterusnya sehingga permintaan DOC setiap hirarki ditentukan oleh permintaan daging atau telur di masyarakat. Oleh karena itu pertumbuhan yang pesat pada bisnis budidaya ayam ras pedaging maupun petelur akan mendorong tumbuhnya industri bibit PS. Hal ini pada gilirannya juga mendorong tumbuhnya bisnis pembibitan GPS dan PL. Hal ini didukung oleh ketentuan pemerintah yang melarang impor bibit DOC FS sejak tahun 1976.

Industri PS sebagai produsen DOC FS memiliki peran strategis dalam aktivitas agribisnis, karena stabilitas pada kegiatan budidaya sangat ditentukan oleh keberadaan industri PS. Biaya DOC FS dalam kegiatan budidaya merupakan komponen biaya yang cukup tinggi mencapai 20-30 % dari total biaya produksi. Saat ini telah terdapat satu buah perusahaan pembibitan galur murni, 18 GPS baik pedaging maupun petelur, 108 buah pembibitan PS pedaging dan 52 buah PS Petelur. Sebaliknya tumbuh berkembangnya industri pembibitan ditentukan oleh situasi pada sub sistem budidaya. Fluktuasi yang sering terjadi pada usaha budidaya berpengaruh pada ketidakpastian industri pembibitan. Oleh karena itu industri pembibitan lebih bersifat padat modal dan diusahakan secara terintegasi dengan usaha makanan ternak untuk mengantisipasi pasar yang tidak menentu. Sebagai strategi pemasarannya, penjualan DOC FS banyak dilakukan dalam bentuk paket bersamaan dengan pakan (Direktorat Jenderal Peternakan, 2000).

Prospek pengembangan industri pembibitan sangat terkait dengan situasi ekonomi nasional maupun global. Pemulihan ekonomi yang sedang berjalan merupakan saat yang baik bagi tumbuh berkembangnya industri perunggasan termasuk industri pembibitan. Potensi pasar industri pembibitan juga berasal dari peluang ekspor yang cenderung menguat dengan semakin membaiknya situasi ekonomi. Namun demikian sebagaimana industri unggas pada umumnya, faktor resiko (risk) dan ketidakpastian (uncertainly) industri pembibitan ayam ras cukup tinggi. Dibandingkan dengan kegiatan pendukung usaha budidaya ayam ras lainnya, industri pembibitan termasuk paling rumit pengelolaannya dan memerlukan investasi paling besar. Aset yang berhubungan dengan investasi pembibitan (breeder) mencapai Rp 6 trilyun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan aset dalam industri obat hewan (1 trilyun) dan industri pakan/feedmill (Rp 2 trilyun). Sejauhmana prospek pengembangan industri pembibitan ayam ras dan strategi yang diperlukan merupakan menjadi kajian yang perlu dilakukan.

Technorati :
Del.icio.us :
Zooomr :
Flickr :

Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :

pembibitan ayam (82), pembibitan unggas (19), Ayam Pure Line di Indonesia (1), kajian pembibitan ayam broiler (1), KEUNTUNGAN DARI PERUSAHAAN PEMBIBITAN AYAM RAS PEDAGING (1), Pemeliharaan pembibitan ps broiler (1), prospek unggas (1), subsistem budidaya ayam ras petelur (1)

Artikel Terkait:

  1. Bibit dalam usaha Pembibitan Ayam
  2. PROSPEK INDUSTRI AYAM RAS PETELUR
  3. Peluang Usaha Pembibitan Ayam Ras
  4. Penentuan Lokasi Usaha Pembibitan Ayam
  5. TEKNIS PRODUKSI PEMBIBITAN AYAM