ASPEK FINANSIAL DALAM USAHA BUDIDAYA KODOK LEMBU
Usaha budidaya kodok lembu yang banyak terdapat di lapangan adalah usaha skala kecil. Dalam bab ini akan disajikan analisis finansial usaha budidaya kodok lembu untuk skala kecil dengan kapasitas produksi 3 ton kodok per periode. Masa produksi kodok lembu berlangsung selama 5 bulan dengan input berupa percil dan output berupa kodok hidup layak konsumsi. Masa 5 bulan dalam tiap periode produksi tersebut telah mencakup masa jeda antar periode produksi yang digunakan untuk mempersiapkan tempat pemeliharaan dan pembelian input produksi berupa precil dan bahan lainnya. Dalam usaha ini diasumsikan besarnya persentase hidup kodok pada akhir masa produksi adalah 60% dari jumlah kodok di awal masa produksi.
Standar Biaya (Total Cost Project)
Pembiayaan kodok lembu secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, yaitu biaya investasi, dan modal kerja yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Sebagai ilustrasi akan diuraikan struktur pembiayaan untuk usaha budidaya kodok lembu skala kecil. Pembiayaan usaha skala kecil tersebut tertera pada Tabel
Struktur Biaya Usaha Budidaya Kodok Lembu untuk Skala Kecil (3 ton kodok hidup/periode)
|
No |
Komponen Biaya |
Struktur Biaya |
|
|
Rp |
% |
||
|
1 |
Investasi |
34,100,000 |
45.41 |
|
2 |
Operasional |
||
|
Biaya tetap |
8,625,000 |
11.49 |
|
|
Biaya variabel |
32,362,000 |
43.10 |
|
|
Jumlah Pengeluaran |
75,087,000 |
100 |
|
Dari struktur biaya tersebut dapat dilihat bahwa biaya investasi usaha budidaya kodok lembu dengan skala kecil memiliki persentase paling besar (45,41%) diantara komponen biaya lainnya. Di lain pihak, pada komponen biaya operasional, biaya variabel (43,10%) jauh lebih besar dibandingkan biaya tetap (11,49%) yang harus dikeluarkan tiap periodenya. Komponen biaya terbesar pada biaya operasional adalah pembelian precil yang diikuti oleh biaya pembelian pakan buatan (pelet).
Penerimaan Usaha
Penerimaan usaha berasal dari penjualan kodok lembu ukuran konsumsi yang diperhitungkan sebanyak 3 ton untuk skala kecil dengan harga jual Rp 20.000,00 per kilogram. Dengan demikian total penerimaan selama satu periode untuk budidaya kodok lembu skala kecil adalah sebesar Rp. 60.000.000,- . Dalam arus kas, hasil penjualan dari satu periode dibukukan sebagai pemasukan pada periode berikutnya.
Kelayakan Investasi
Untuk menentukan kelayakan finansial dari usaha budidaya kodok lembu dilakukan analisis dalam beberapa kriteria meliputi periode pengembalian (pay back periods, PBP) rasio manfaat biaya (benefit cost ratio, BCR), nilai tunai neto (net present value, VPV), tingkat penghasilan internal (internaL rate of return, IRR) dan titik impas (break event point, BEP). Hasil analisis kelayakan usaha budidaya kodok lembu skala kecil dapat dilihat pada Tabel
Analisis Kelayakan Usaha Pembesaran Kodok Lembu pada Skala Kecil (3 ton)
|
Kriteria |
Nilai |
|
NPV |
Rp 62.310.454 |
|
IRR |
36,58% |
|
BCR |
1,37 |
|
PBP (periode) |
1,42 |
|
BEP (kg) |
1,734 |
|
BEP (Rp) |
34.698.274 |
Dari hasil analisis pada tabel menunjukkan , dengan asumsi harga tetap selama masa proyeksi, usaha dapat mengembalikan seluruh modal investasi dan modal kerja baik komponen kredit maupun modal sendiri dalam waktu kurang dari dua periode. Dengan biaya modal diasumsikan sama dengan biaya kredit (19% per tahun), rasio manfaat biaya neto (=didiskonto) pada usaha skala kecil adalah sebesar 1,37. Rasio ini cukup layak seperti rasio manfaat biaya usaha pada umumnya, namun perlu diperhatikan sensitivitas usaha kodok lembu terhadap kenaikan biaya operasional maupun penurunan harga jual kodok.
Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas tiap-tiap kriteria kelayakan dilakukan untuk mengetahui perubahan nilai kelayakan yang terjadi jika terjadi perubahan variabel biaya ataupun pemasukan. Dari hasil analisis dapat dinilai apakah usaha tersebut layak dibiayai jika terjadi penurunan harga dan kenaikan biaya operasional ataukah tidak. Hasil analisis sensitivitas dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Analisis Sensitivitas Usaha Pembesaran Kodok Lembu pada Skala Kecil (3 ton)
|
Kondisi |
Normal |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
NPV |
Rp 62,310,454 |
Rp 12,522,172 |
Rp 38,279,839 |
Rp 39,241,063 |
(Rp 8,339,554) |
(Rp 23,544,356) |
|
IRR |
36.58% |
22.97% |
29.92% |
30.18% |
16.56% |
11.83% |
|
BCR |
1.37 |
1.07 |
1.22 |
1.23 |
0.95 |
0.86 |
|
PBP (bulan) |
1.42 |
1.65 |
1.48 |
1.47 |
1.60 |
1.72 |
|
BEP (kg) |
1,735 |
1,734.93 |
1,735 |
1,735 |
1,735 |
1,735 |
|
BEP (Rp) |
34,698,274 |
34,698,517.95 |
34,698,404 |
34,698,399 |
34,698,630 |
34,698,677 |
Keterangan :
Kondisi 1 : Harga jual turun sebesar 5%
Kondisi 2 : Harga beli percil naik sebesar 10%
Kondisi 3 : Harga beli pelet naik sebesar 10%
Kondisi 4 : Harga beli percil dan pelet naik sebesar 15%
Kondisi 5 : Harga jual turun 5%, harga beli percil dan pelet naik 10%
Dari hasil analisis sensitivitas diatas terlihat bahwa usaha kodok lembu lebih sensitif terhadap penurunan harga jual kodok dibandingkan kenaikan harga beli percil maupun pelet. Hal ini dapat dilihat dari penurunan nilai IRR dan NPV yang cukup besar dibandingkan dengan kondisi normal.
Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :
aspek finansial (59), budidaya bullfrog (16), harga kodok lembu (13), jual bibit katak lembu (13), harga kodok (3), jual kodok hidup (1), jual percil katak lembu (1), modal kecil budidaya kodok (1), rincian modal budidaya katak lembu (1), jual bibit katak kosumsi (1), jual beli kodok lembu (1), analisa keuntungan budidaya kodok lembu (1), aspek keuangan dalam bisnis jamur (1), aspek keuangan dalam analisis kelayakan (1), aspek keuangan bisnis jamur tiram (1), ANALISA USAHA BISNIS KATAK LEMBU (1), usahakodok (1)Artikel Terkait:

Leave a Reply