Tinjauan Bioteknis dalam Usaha Budidaya Udang
Pengertian dan prinsip dalam budidaya udang : (1) Budidaya udang adalah suatu kegiatan dengan maksud membesarkan benih udang (± 20 miligram) menjadi udang dengan ukuran marketable (±33,3 gr/ekor atau 30 ekor/kg, biasa disebut size 30). Ukuran tersebut dianggap sebagai standar dalam penentuan harga pasar. (2) Supaya benih yang beratnya 20 mg tersebut dapat tumbuh menjadi lebih besar atau sama dengan 33,3 gr dalam waktu 150 hari (masa budidaya 5 bulan), maka benih perlu mendapatkan pakan dan air sebagai media hidup yang baik dan sesuai (menurut Biological Requirement Standard).(3) Pakan untuk udang sesungguhnya telah tersedia dalam tambak (pakan alami seperti cacing dan plankton) dengan jumlah sangat terbatas dan hanya cukup untuk sejumlah udang tertentu saja. Apabila jumlah udang yang dipelihara makin banyak maka pakan buatan (pellet) perlu diberikan.(4) Selama masa budidaya, setiap ekor udang (apabila mendapatkan pakan dan air yang baik) akan memproduksi daging udang (atau tumbuh) dan bersamaan dengan itu juga memproduksi bahan buangan yang merupakan racun bagi udang sendiri maupun udang lainnya, seperti CO2, NH4 dan sebagainya.
Keempat prinsip tersebut memberikan konsekuensi sebagai berikut.
Produktivitas suatu luasan tambak ditentukan oleh jumlah benih yang ditabur dengan berpedoman pada:
Tabel Jumlah Benih yang Ditabur dan Produktivitas Berdasarkan Tingkat Teknologi.
|
Jumlah Benih |
Produksi (kg/ha/musim) |
Klasifikasi Tingkat Teknologi |
|
< 4 ekor/m2 |
< 900 |
Ekstensif |
|
4 – 20 ekor/m2 |
900 – 4.000 |
Semi Intensif |
|
> 20 ekor/m2 |
> 4.000 |
Intensif |
Catatan: Produksi tersebut berdasarkan asumsi bahwa benih yang ditebar dapat hidup dengan tingkat SR (survival rate) sampai dengan 60% dan tumbuh dengan syarat butir 2 dipenuhi.
Berdasarkan karakteristik udang yang memproduksi daging dan sekaligus pula memproduksi bahan buangan (racun) maka konsekuensinya adalah sebagai berikut.
- Makin banyak udang dalam suatu petak tambak, maka semakin banyak produksi udang yang dihasilkan, tetapi juga semakin banyak “racun” yang diproduksi oleh petak tersebut.
- Semakin banyak petak berisi udang di suatu kawasan pertambakan maka makin banyak produksi udang dikawasan tersebut, tetapi semakin banyak juga “racun” diproduksi oleh kawasan tersebut.
- Hal yang identik seperti tersebut di atas adalah makin sering dan makin lamanya tambak dioperasikan, maka racun makin banyak terakumulasi.
- “Racun” yang diproduksi petak maupun kawasan (umumnya berupa feses dan sisa pakan) ditambah lagi dengan berbagai bahan yang terbawa air yang masuk ke petak tambak atau kawasan dan akan terakumulasi apabila kecepatan pemasukan beban tidak seimbang dengan dekomposisi dan mineralisasi di tempat tersebut. Kondisi seperti itulah yang sering disebut dengan “budidaya udang yang melampaui daya dukung lingkungan”. Indikator terjadinya penurunan daya dukung lingkungan adalah pada tahap awal terjadi penurunan kecepatan pertumbuhan udang, selanjutnya timbul berbagai wabah/penyakit yang dapat membawa kegagalan total produksi.
Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :
pengertian budidaya (16), budidaya udang bago (15), ternak udang bago (5), pengertian budidaya udang (5), definisi tambak (4), pengertian tambak intensif (2), SURVIVAL RATE TAMBAK INTENSIF 2010 (1), pengertian tambak semi intensif (1), pengertian tambak (1), definisi usaha udang (1), definisi benih udang (1), maksud daya dukung umkm (1), maksud budidaya (1), jumlah UKM medan (1)Artikel Terkait:
- Persyaratan Perdagangan Internasional dalam Usaha Budidaya Udang ( Lobster dan Udang)
- Teknik Budidaya Udang
- Resiko Usaha dalam Budidaya Udang
- KONDISI MIKRO INDUSTRI UDANG
- PELUANG USAHA BUDIDAYA UDANG GALAH : TEKNIK PEMIJAHAN UDANG GALAH / GIANT FRESH WATER (Macrobrachium rosenbergii de Man.) bagian 1

Leave a Reply